Hari ini angin sangat kuat, awan pun tidak menapakkan dirinya, terlihat di angkasa, surya sedang tertawa. Seolah paling berkuasa surya memancarkan sinar terangnya. Dunia ini seperti milik mereka berdua. Indahnya tarian surya di langit mengiringi nyanyian hembus kencang angin, seakan menunjukan hangatnya murka semesta. Lantas apakah aku ini? Berapakah nilaiku jika dibanding mereka? Sejenak jiwaku terdiam, hatiku mellihat diriku, rohku ketakutan. Aku tak tahu apa tujuanku ada di dunia ini. Mereka yang terus berusaha memperkaya diri, apakah mereka sudah pernah berpikir seperti aku? Mereka yang berusaha terus menyenangkan dirinya apakah mereka mengerti?
Coba sejenak berpikir banyak hal yang belum kita ketahui, tetapi memori ini sudah hampir penuh. Apakah tujuan manusia hanya untuk mempelajari dunia? Tapi… dunia ini pun fana sekejap datang sekejap pergi. Banyak yang muncul lebih banyak juga yang hancur. Apakah ada usaha di dunia yang kekal? Semua hanya tentang kuasa dan pengakuan. Lalu kalau hanya untuk itu mungkinkah aku salah masuk ke dunia ini? Atau aku sendiri yang tidak membiasakan diri dengan semuanya?
Aku rasa aku telah sama dengan yang lain, aku rasa sejak aku dilahirkan tidak ada yang spesial di dalam diriku. Aku pun berusaha berpikir untuk menyamakan diriku dengan dunia. Aku berusaha berperilaku seperti dunia. Keras aku berusaha untuk menjadi kaya, keras usahku untuk selalu bersenang-senang. Awalnya aku mulai menikmati, aku rasa sekarang aku telah sama dengan yang lain. tidak buruk juga tidak membosankan.
demi hari aku mulai aku dibawa melupakan semua pertanyaanku tentang dunia. Waktu demi waktu dunia ini membwaku pergi ke surganya. Sedikit demi sedikit harta aku timbun, kuasa pun datang padaku, orang orang yang meremehkanku pun aku kalahkan. Hahaha aku telah benar benar lupa tentang pertanyaanku. Aku bermandikan kekuasaan, aku dimanjakan kehebatanku. Aku yang dulu pemurung kini menjadi manusia pesta. Keberhasilanku meniru dunia bahkan telah membawaku memimpin dunia.
Keingintahuanku membawaku lebih mencintai dunia ini. Apa saja yang kumau sepertinya datang dengan sendirinya. Seolah aku menyesal kenapa tidak dari dulu aku seperti ini. Lawan lawanku pun aku habisi semua, tunduk di bawah kakiku memohon ampun kepadaku. Setiap hari aku tertawa riang meratapi nasib orang yang dulu mencaciku. Kesombongan menutupi memori masa bodohku dahulu.
Gedung gedung tingggi aku dirikan sebagai tanda betapa hebatnya aku yang sekarang. Seakan aku ingin menginjak-injak semua memori bodoh masa laluku. Orang orang bertepuk tangan atas pencapaianku. Tak sedikit juga ada dari mereka yang mencoba menjilatku. Hahaha aku bukan orang yang bodoh, aku telah merasakan bagaimana menjadi miskin. Wajahku banyak terlihat di televisi dan media masa, mereka menyanjung, mereka memberitahukan betapa hebatnya aku.
Hei surya, hei langit biru, hei angin kuat… diriku sekarang setangguh dirimu. Diriku yang dulu takut, sekarang sudah di atas. Roda yang menahanku di bawah telah aku putar balikkan. Siapa tak kenal diriku…? Aku sudah bukan lagi di level sama dengan dunia, tapi aku menguasai dunia. Diriku yang sekarang patut dipanggil raja. Mulutku memerintah dunia tanganku menggenggam dunia. Siapa yang sanggup melawan aku?
Angin pun bertiup kuat lagi, malam ini telihat banyak sekali awan tebal di langit. Hujan turun begitu lebat. Waktu itu lelahku terasa setelah seharian bekerja, aku pun beristirahat di istana yang telah kubangun. Ditemani pemikiranku akan hari esok, aku pun melihat taman kecil di tengah istanaku, waktuku telah banyak kuhabiskan untuk dunia hebatku. Berangkat pagi hari pergi ke banyak tempat telah biasa bagi tubuhku. aku sejenak membanggakan diriku mengingat betapa berhasilnya aku yang sekarang. Derrrt derrrtrrr detrrrr suara kaca yang bergetar dikala petir menari nari di angkasa,
Perasaanku pun terbawa sesaat aku sadari petir itu tak muncul lagi. Hujan pun sedikit-sedikit mereda aku dibawa menyadari bahwa masih ada satu ruang hatiku yang kosong. Apalagi? Yang mana lagi? Apakah ada yang belum aku punya? Siapa yang bisa melebihi aku? Kenapa hatiku belum puas? Kenapa rohku terasa kosong?
Detak jam dinding di kamar mebuatku muak, wajahnya menunjukan sudah pukul 1 pagi. Padahan esok pagi aku harus terbang ke luar kota. Pertanyaan-pertanyaan tadi terus mengiang di kepalaku. Semakin keras ku melupakan semakin muak ku dibuatnya. Jarum jam terasa sangat cepat berdetak kulihat layar smartphoneku menunjukan pukul 2 pagi. Kuputuskan untuk minum obat tidur.
Hujan semalam belum selesai malah pagi ini semakin ribut saja. Asistenku mengabariku pesawat yang akan menghantarku tidak bisa terbang karena cuaca buruk. Rencana hari ini pun aku batalkan semua. Kuputuskan untuk rehat satu hari dan bersantai di ruang TV. Hatiku sedang tidak karuan hampir semua asisten rumah tanggaku kujadikan pelampiasan. Kuusir semua asisten rumh tanggaku. perasaan marah kesal dan kosong menghantuiku seharian penuh ini.
Pemikiranku yang selama ini membimbingku pun entah kemana perginya. Aku hanya duduk termenung di ujung ruang tamuku. baru kali ini aku merasa bodoh atas pencapaianku. seperti segala hal yang kubangun ini sia-sia. Untuk apa aku hidup? Apakah jalanku salah? Buat apa hartaku yang sekarang? Ini gak akan berguna kalau nanti aku mati.
Untuk pertama kalinya aku bertanya bukan kepada pikiranku. wahai hatiku ada apa denganmu? Wahai hatiku apakah kurangnya hartaku, pengakuanku, tahtaku? semua yang kuperjuangkan ini apakah masih ada yang bisa melebih aku? Air mataku tetes demi tetes terjatuh di pipiku. aku hanya bisa mengurung diri, seperti orang terpenjara.
Sampai 3 kali matahari berganti aku tidak keluar dari istanaku. Semua alat komunikasi aku matikan, segala keperluan aku kesampingkan. Hanya aku yang terus bertanya kepada hatiku. dan pemikiranku hanya bisa menyesali semua. Aku tidak mau seperti orang gila, aku tidak mau seperti orang tidak waras. Aku hanya berusaha tenang. Aku mulai berpikir tentang Tuhan..
Siapa Dia? Sehebat apa Dia? Kenapa dia di cari orang banyak? Kenapa orang berusaha untuk ke tempatnya? Ya Tuhan apakah engkau bisa menolongku? sejenak aku hati dan pikirku mulai berpadu untuk menemukan Dia.. sampai akhirnya aku dibuat tertunduk.. dahiku yang biasa mendungak sombong ke atas, kini mulai tertunduk dan aku dibuatNya malu.
0 komentar:
Posting Komentar