Pagi ini cuaca sangat baik. Langit menggelapkan diri, banyak tetesan air yang mengguyur bumi, tanah jadi bergelimang becekan, tak ada yang bisa kerja, tak ada yang bisa sekolah. Hari yang sangat tepat bagi Ambar untuk menambah keakraban dengan kakaknya yang memiliki hobi selfie tersebut. Dengan tubuh masih tergeletak di ranjang, ia memandang keluar pintu. Di situ ada kakaknya yang sedang memasak mie goreng. Tangan kanan memegang spatula, tangan kiri memegang ponsel yang berkamera depan delapan megapixel. Yap. Untuk apa lagi kalau bukan untuk selfie. Ambar pun mendengus kesal.
“Aku tahu kalau wajahmu itu putih mulus berseri, kak!” Teriaknya.
“Itu jelas. Dan kau hanya bisa iri karena wajahmu seperti jalan di depan rumah kita!”
Terlihat jelas dari jendela kamar mereka, seorang pengendara motor yang nyungsep ke selokan akibat berusaha menghindari lubang-lubang berisi air keruh di jalanan.
“Itu jelas. Dan kau hanya bisa iri karena wajahmu seperti jalan di depan rumah kita!”
Terlihat jelas dari jendela kamar mereka, seorang pengendara motor yang nyungsep ke selokan akibat berusaha menghindari lubang-lubang berisi air keruh di jalanan.
Ambar yang baru bangun tidur, yang pipinya masih ada kerak ludahnya (biasanya disebut iler), yang ujung matanya masih tersumbat partikel lembek (biasanya disebut belek), langsung bangkit dari ranjangnya dan segera menghantam kakaknya dengan tendangan lmaut super ala James Bon. Tunggu, sejak kapan Om James ahli tendang-menendang?
Buak!
Ambar begitu marah karena kakaknya selalu saja menghina adiknya sendiri. Ia sangat muak selalu disebut-sebut karena perbedaan permukaan kulit wajah mereka.
Buak!
Ambar begitu marah karena kakaknya selalu saja menghina adiknya sendiri. Ia sangat muak selalu disebut-sebut karena perbedaan permukaan kulit wajah mereka.
Selepas diterjang oleh adiknya, Yosi tak sadarkan diri. Lantas, ia bangkit dan berubah menjadi seekor siluman ular berkepala singa. Huahahaha!
Yak, cukup. Itu hanya bayangan alam sadar Ambar. Ia tak berani melakukan adegan kekerasan tersebut. Ia anak baik-baik. Ia lebih memilih diam dan tidur lagi. Memang, orang baik cenderung malas. Mitos atau fakta!?
Yak, cukup. Itu hanya bayangan alam sadar Ambar. Ia tak berani melakukan adegan kekerasan tersebut. Ia anak baik-baik. Ia lebih memilih diam dan tidur lagi. Memang, orang baik cenderung malas. Mitos atau fakta!?
Usai sarapan, Ambar mengawali percakapan dengan kakaknya lagi. Kala itu Yosi sedang berdandan di depan cerminnya yang sudah retak. Barangkali harga cermin lebih mahal ketimbang bedak two way cake-nya.
“Bedak itukah yang membuat wajahmu tetap mulus, kak?”
“Tidak juga.”
“Terus?”
“Itu rahasia yang takkan kau dapatkan dari siapapun.”
“Bedak itukah yang membuat wajahmu tetap mulus, kak?”
“Tidak juga.”
“Terus?”
“Itu rahasia yang takkan kau dapatkan dari siapapun.”
Ambar berdiri dan berjalan meninggalkan kakaknya yang masih tetap menatap ke cermin sembari membedaki wajahnya yang bening itu. Kakak macam apa itu, main rahasia-rahasiaan dengan adiknya sendiri, batin Ambar. Ia langsung masuk ke dalam kamar, membuka lemari dan mencari berkas-berkas keluarga seperti kartu keluarga dan akte kelahiran Yosi. Curiga berat melandanya.
“Ambar!”
Deg! Ambar terkejut. Saat sedang fokusnya mencari berkas, Yosi masuk ke dalam kamar dan mendapati adiknya dalam keadaan seperti maling. Ambar bergetar dan langsung menyandarkan tubuhnya di lemari kayu itu. Kakaknya melangkah mendekati Ambar. Tidak, itu bukan langkah biasa. Itu langkah pembunuh, berat dan mencekam. Pandangannya tajam dan beringas, seperti ingin memisahkan kepala Ambar dengan tubuhnya. Ambar memejamkan mata. Ia tak tahu apa yang terjadi setelah ini. Ia menyesal telah serumah dengan kakak bohongan seumur hidupnya. Inilah waktuku, batinnya. Ia berfikir ia belum lagi menikah, punya anak, dan punya cucu yang sangat imut. Oh, betapa cepatnya hidup ini. Andai saja aku bisa…
Deg! Ambar terkejut. Saat sedang fokusnya mencari berkas, Yosi masuk ke dalam kamar dan mendapati adiknya dalam keadaan seperti maling. Ambar bergetar dan langsung menyandarkan tubuhnya di lemari kayu itu. Kakaknya melangkah mendekati Ambar. Tidak, itu bukan langkah biasa. Itu langkah pembunuh, berat dan mencekam. Pandangannya tajam dan beringas, seperti ingin memisahkan kepala Ambar dengan tubuhnya. Ambar memejamkan mata. Ia tak tahu apa yang terjadi setelah ini. Ia menyesal telah serumah dengan kakak bohongan seumur hidupnya. Inilah waktuku, batinnya. Ia berfikir ia belum lagi menikah, punya anak, dan punya cucu yang sangat imut. Oh, betapa cepatnya hidup ini. Andai saja aku bisa…
Plak!
“Au!”
Yosi mendaratkan pukulan keras di kening adiknya. Ambar meringis.
“Dasar kakak yang kejam!”
Yosi diam melongo memandangi telapak tangannya yang putih mulus itu. Memangnya ada telapak tangan hitam?
“Tak kena. Ia berhasil kabur. Padahal tubuhnya sudah segemuk ayam potong Mbak Iyem.”
Ambar melotot dan menganga terkejut lagi sembari mengelus-elus keningnya. Ternyata kakaknya mengincar nyamuk yang ada di keningnya sedari tadi.
“Eits, itu dia datang lagi, Mbar!”
Plak!
“Jangan bilang tak kena lagi!” Ambar mengeluarkan bentakan yang penuh ketakutan.
Kakaknya tak tahu harus menggeleng atau mengangguk atas pertanyaan ambigu tersebut. Ambar rasanya ingin menggigit dan membredel habis-habisan kakaknya setelah tahu tak ada bekas darah di telapak tangan Yosi.
“Au!”
Yosi mendaratkan pukulan keras di kening adiknya. Ambar meringis.
“Dasar kakak yang kejam!”
Yosi diam melongo memandangi telapak tangannya yang putih mulus itu. Memangnya ada telapak tangan hitam?
“Tak kena. Ia berhasil kabur. Padahal tubuhnya sudah segemuk ayam potong Mbak Iyem.”
Ambar melotot dan menganga terkejut lagi sembari mengelus-elus keningnya. Ternyata kakaknya mengincar nyamuk yang ada di keningnya sedari tadi.
“Eits, itu dia datang lagi, Mbar!”
Plak!
“Jangan bilang tak kena lagi!” Ambar mengeluarkan bentakan yang penuh ketakutan.
Kakaknya tak tahu harus menggeleng atau mengangguk atas pertanyaan ambigu tersebut. Ambar rasanya ingin menggigit dan membredel habis-habisan kakaknya setelah tahu tak ada bekas darah di telapak tangan Yosi.
Tengah malam, pintu rumah mereka diketuk seseorang. Yosi terbangun dan dalam keadaan setengah sadar, ia membuka pintu.
“Ada perlu apa?” Matanya setengah terbuka setengah tertutup.
Tak ada seorangpun yang mendengar teriakan Yosi saat ia berhasil diculik oleh pria misterius tadi. Dengkuran Ambar sempat terhenti saat kakaknya menjerit tolong, namun itu tak membangunkannya. Setelah kakaknya sampai di dalam mobil, dengkurannya berlanjut kembali.
“Ada perlu apa?” Matanya setengah terbuka setengah tertutup.
Tak ada seorangpun yang mendengar teriakan Yosi saat ia berhasil diculik oleh pria misterius tadi. Dengkuran Ambar sempat terhenti saat kakaknya menjerit tolong, namun itu tak membangunkannya. Setelah kakaknya sampai di dalam mobil, dengkurannya berlanjut kembali.
“Kak?”
Waktu sudah pagi saat Ambar memanggil kakaknya. Ia langsung duduk tegak dan melihat di sisinya kakaknya sudah tak ada lagi. Barangkali kakak sudah di dapur, batinnya. Ia pun berlari menuju dapur dan ternyata…
“Halo, Ambar… ”
“Kak? Apa yang terjadi dengan wajah kakak? Kenapa kakak jadi berjerawat?”
“Tak apa. Ini semua demi kebaikanmu.” Kakaknya menjawab dengan lembut sembari memotong kentang.
“Kebaikanku? Apa maksudnya?”
Waktu sudah pagi saat Ambar memanggil kakaknya. Ia langsung duduk tegak dan melihat di sisinya kakaknya sudah tak ada lagi. Barangkali kakak sudah di dapur, batinnya. Ia pun berlari menuju dapur dan ternyata…
“Halo, Ambar… ”
“Kak? Apa yang terjadi dengan wajah kakak? Kenapa kakak jadi berjerawat?”
“Tak apa. Ini semua demi kebaikanmu.” Kakaknya menjawab dengan lembut sembari memotong kentang.
“Kebaikanku? Apa maksudnya?”
Ambar mencoba mendekati kakaknya. Namun ia merasa ada yang beda saat berjalan melewati cermin di sampingnya. Lantas ia pun kembali lagi ke cermin itu dan segera melihat wajahnya. Ternyata oh ternyata…!
“Ini tidak mungkin!”
Yosi tertawa dan menuangkan potongan kentangnya ke dalam penggorengan.
“Kakak melakukan semacam teknik substitusi?” Tanya Ambar.
“Aku lebih menyayangimu ketimbang diriku sendiri. Sekarang kau sudah mampu mewujudkan wajah mulusmu!” Yosi tersenyum riang.
Seperti ada dorongan kuat dalam diri Ambar untuk segera berteriak dan mengeluarkan air mata. Ia menahannya walau beberapa tetes air mata bisa jatuh juga. Wajahnya memerah padam. Kakaknya yang kini sudah tak semulus hari kemarin terkejut tiba-tiba adiknya itu mendekap erat kakaknya penuh tangis bercampur tawa.
“Ini tidak mungkin!”
Yosi tertawa dan menuangkan potongan kentangnya ke dalam penggorengan.
“Kakak melakukan semacam teknik substitusi?” Tanya Ambar.
“Aku lebih menyayangimu ketimbang diriku sendiri. Sekarang kau sudah mampu mewujudkan wajah mulusmu!” Yosi tersenyum riang.
Seperti ada dorongan kuat dalam diri Ambar untuk segera berteriak dan mengeluarkan air mata. Ia menahannya walau beberapa tetes air mata bisa jatuh juga. Wajahnya memerah padam. Kakaknya yang kini sudah tak semulus hari kemarin terkejut tiba-tiba adiknya itu mendekap erat kakaknya penuh tangis bercampur tawa.
Hari ke hari, waktu terus melangkah cepat tak peduli apapun. Ambar selalu mengisi harinya dengan senyuman dan keceriaan. Kepercayaan dirinya juga meningkat pesat terutama saat mengupload foto ke media sosial tanpa menggunakan aplikasi pemulus wajah. Banyak lelaki yang mendekatinya bahkan sampai ada yang ingin melamarnya. Tentu ia semakin sibuk dengan gadgetnya karena mengurus banyak lelaki. Saking bahagianya dengan semua itu, ia pernah tak bisa tidur semalaman. Dalam berpergian juga mudah. Banyak lelaki yang menawarkan diri sebagai tukang ojek pribadinya. Tentu Ambar punya skill manajemen yang mumpuni. Hari ini ia jalan dengan si A, besok si B, besoknya lagi si C.
Sempat ada teman perempuannya yang mengetus pedas,
“Hei, ketombe!”
Ambar menoleh ke belakang saat ia tengah berjalan dengan bergandengan tangan dengan seorang lelaki.
“Reni, siapa yang kau maksud dengan ketombe?”
“Tentu saja kau! Selalu menempel pada siapa saja! Itu kan kerja ketombe!”
“Enak saja! Seperti itukah orang iri ketika ia tidak mampu menjadi secantik Ambar Sonya?”
“Sombong sekali kau! Ingat, dulu wajahmu seperti apa! Harusnya kau habiskan waktumu untuk bersyukur, bukan menjajakan wajahmu itu untuk diciumi habis-habisan dengan sembarang lelaki! Dasar murahan!”
“Hei, ketombe!”
Ambar menoleh ke belakang saat ia tengah berjalan dengan bergandengan tangan dengan seorang lelaki.
“Reni, siapa yang kau maksud dengan ketombe?”
“Tentu saja kau! Selalu menempel pada siapa saja! Itu kan kerja ketombe!”
“Enak saja! Seperti itukah orang iri ketika ia tidak mampu menjadi secantik Ambar Sonya?”
“Sombong sekali kau! Ingat, dulu wajahmu seperti apa! Harusnya kau habiskan waktumu untuk bersyukur, bukan menjajakan wajahmu itu untuk diciumi habis-habisan dengan sembarang lelaki! Dasar murahan!”
Tanpa aba-aba, kedua gadis tersebut bertarung habis-habisan di pinggir taman kota. Si lelaki hanya diam saja, malahan pergi berlari meninggalkan tempat kejadian. Tak ada yang melerai mereka. Justru pertarungan itu malah diabadikan sebagai video oleh beberapa orang dan diupload ke media sosial. Bahkan ada yang bertaruh pada mereka. Polisi tak kunjung datang padahal itu sudah menit kelima mereka bertarung. Tahu sendirilah, polisi selalu datang terlambat jika menjadi figuran. Kecuali bila mereka jadi lakon utama.
0 komentar:
Posting Komentar