Kamis, 14 Maret 2019

91

Matahari perlahan terbenam di ufuk barat. Suara azan bersamaan dengan itu bergema di seluruh penjuru dunia. Seorang wanita berkepala empat menaiki tangga menuju lantai tiga rumahnya. Dari tangga lantai ke dua masih terdengar tabuhan drum yang berasal dari studio musik anaknya. Wanita itu sedikit menyipitkan matanya saat melihat putranya yang masih asyiknya bermain drum walau azan telah terdengar.
“Raja.. Nggak kedengaran azan nak? Shalat gih sana..” pinta Ibu Raja lalu menutup pintu dan berlalu meninggalkan putranya.
Raja merenggangkan tubuhnya sejenak. Seharian berlatih bermain drum untuk festival band beberapa minggu lagi membuat tubuhnya sedikit terasa lelah. Ia mengedarkan pandangannya keseliling studionya. Dinding yang bercat kan putih bersih itu dihiasi dengan poster-poster idolanya.
Setelah sedikit melepas penat badan ia pun beranjak meninggalkan studionya. Ia bergegas berwudhu dan bersegra untuk shalat. Ia yakin shalat akan membuat badannya terasa lebih segar.

Matahari tepat berada di atas kepala. Cuaca hari ini sangat panas, namun tidak membuat semangat para pembalap junior menurun. Seorang pemuda dengan stelan pembalap rapi sudah siap untuk menghadapi track kali ini.
“Siap buat kali ini bro?” tanya salah satu teman di sampingnya, lalu ia mengerlingkan matanya pertanda ia sangat siap untuk track kali ini. Event balap kali ini adalah yang kedua untuknya. Saat event pertama ia berhasil mendapatkan peringkat pertama setelah menjalani latihan yang sangat melelahkan. Tetapi walaupun begitu jerih payahnya tidak sia-sia.
Gadis pembawa bendera sudah tampak berada di depan mereka, pertanda mereka harus bersiap-siap. Lalu dengan cepat gadis itu menjatuhkan bendera nya pertanda agar para pembalap memulai event ini. Bersamaan dengan itu para supporters bersorak-sorak dan meneriakkan nama pembalap yang mereka dukung.
“Raja! Raja! Raja!” Baik di sisi kiri maupun sisi kanan, sangat banyak penonton yang memilih nama Raja untuk mereka dukung. Bagaimana tidak, pesonanya di track sangat memancar sehingga penonton lebih memilih untuk menjadi pendukung Raja.
Raja memacu motornya dengan kecepatan tinggi. Berkali-kali dengan lincah ia mampu melewati track yang bagi beberapa pembalap junior seperti dirinya adalah track yang sangat sulit. Hal ini membuat pendukung Raja berteriak histeris. Saat akan melewati track terakhir, mata elangnya menuju ke sebelah kanan penonton. Ia mencari sosok yang sangat ia harapkan kehadirannya di event kali ini.
Sontak saat telah menemukan posisi berdiri gadis yang ia cari-cari ia pun tersenyum lega. Tampan menunggu waktu lagi ia pun kembali memacu laju motornya dengan kecepatan yang lebih tinggi dari sebelumnya.
Raja yakin, di event kali ini ia akan membawa lagi tropi utama seperti event sebelumnya. Semoga saja.
Kurang dari 10 menit Raja akhirnya berhasil melalui track yang sangat panjang dan sangat menantang adrenalin itu. Ia menjadi pembalap pertama melewati garis finish. Pendukungnya bersorak-sorak kegirangan meneriaki namanya. Lalu mereka berbondong-bondong menghampiri Raja yang sudah berada di pinggir lapangan.
“Congratulation! You’re so great Raja!” puji seorang gadis pada Raja lalu menjabat tangan Raja. Raja tak bisa menyembunyikan senyuman nya saat gadis yang sangat ia kagumi itu memberikan ucapan selamat padanya. Namun di lain sisi ia tak bisa berkata apa-apa.
Lalu 15 menit setelah itu para pemenang menaiki podium, berfoto bersama lalu masing-masing pembalap diberikan tropi. Di tengah-tengah kebahagiaan Raja tak disangka seorang pemuda merasa iri dengan kebahagiaan dan prestasi Raja.
“Prak!” Raja menutup pelan pintu kamarnya, namun tetap membuat pintunya bersuara. Ia perlahan melepaskan jaket coklatnya lalu menggantungkannya ke gantungan yang berada di belakang pintu kamarnya. Sejenak ia menatap kamarnya.
Kamar yang cukup luas. Bercatkan cream. Pada dinding kamarnya terdapat rak-rak berwarna coklat muda yang di atasnya penuh dengan koleksi piagam-piagam serta tropinya. Butuh perjuangan keras mendapatkan semua itu.
Dengan wajah yang sangat bahagia, di samping tropi event balapnya tahun lalu, ia taruh tropi yang baru tadi ia dapatkan. Kali ini tropinya lebih tinggi dan bagus dari tahun kemarin.
Raja kembali menatap piagam-piagamnya. Ia sudah mengoleksi sepuluh piala. Dua diantaranya karena ia memenangkan event balap. Sedangkan sisanya ia dapatkan saat mengikuti festival band. Ia pernah mendapatkan penghargaan sebagai pemain drum terbaik, band terbaik, band terkeren, dan sebagainya.
Event balap sudah ia lalui. Beberapa minggu lagi ia akan mengikuti lomba festival band di kotanya tahun ini. Ia berharap keberuntungan masih tetap bersamanya.
Raja menengadahkan tangannya dan perlahan mengucapkan harapan-harapannya. Ia yakin harapannya akan berterbangan bersama angin hingga tuhan mendengar lalu mengabulkan permintaannya.
Sebelum memutuskan untuk tidur, Raja meronggoh sesuatu yang ada di dalam sakunya. Saat ia telah menemukan apa yang ia inginkan, ia pun mengeluarkannya. Sejenak Raja asyik berkutat dengan SmarthPhonenya. Ia tampak sedang mengamati profil seseorang di sosial medianya. Senyumannya mengembang.
Setelah beberapa menit ia memutuskan untuk mengakhiri kegiatannya untuk menstalker gadis yang ia kagumi. Raja berbaring dan menatap langit-langit kamarnya. Hari ini adalah hari yang sangat berkesan untuknya. Terlebih lagi gadis itu hadir lagi di event balapnya. Tanpa ia sadari ia pun akhirnya terlelap dalam tidurnya. Tidur nyenyak hingga gadis yang ia kagumi merasuki mimpi indahnya.
“Kita mulai lagi ya! Yang semangat dong!” teriak Fabio, vokalis Legend Band menyemangati anggota bandnya di sela-sela hentakan musik yang sangat kencang. Beberapa kali ia mengomentari dan memberikan masukan agar bandnya akan tetap bertahan menduduki posisi teratas band terkeren di kotanya.
Karena ia ingin mematahkan pendapat orang-orang bahwa band mereka hanya menjual tampang saja. Namun ia akan membuat mereka menyadari, bukan hanya anggota band ini yang tampan. Tetapi lagu, teknik serta hingga lagu yang mereka bawakan lebih baik daripada band yang lain.
“Ja, gimana kalo kia aransemen lagi lagu ini.” saran Fabio sambil mengarahkan Raja tentang aransemen musik yang ia maksudkan. Setelah berdiskusi panjang lebar, Raja pun menyetujui.
“Lo harus tunjukin karisma lo Ja. Kali ini harus lebih dari tahun yang lalu! Gimana bro?” Raja mengancungi jempolnya pertanda setuju. Semangatnya sedang berkobar-kobar kali ini.
“Time out dulu deh. Kita perlu istirahat sob.” ucapan Verdi membuat anggota bandnya setuju dan istirahat untuk sekedar minum dan melepaskan penatnya. Di sudut studio, Raja memilih untuk menghubungi seorang gadis.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar